Populasi Rino Sumatera, Masih Punya Harapan Bangkit Dari Kepunahan
Badak Sumatera yaitu rino Asia satu-satunya yang memiliki dua cula. Spesies warak yang mempunyai nama ilmiah Dicerorhinus sumatrensis ini adalah rino dengan ukuran badan terkecil dibandingkan semua sub spesies badak lain di dunia.
Badak Sumatra masuk dalam daftar merah spesies dengan populasi terancam punah (critically endangered) oleh lembaga konservasi dunia, IUCN. Penyebaran spesies terbanyak berada di daerah Sumatera, dan beberapa di Sabah dan Semenanjung Malaya.
Badak Sumatera Terancam Punah
Seperti yang kita pahami, perburuan liar ialah bahaya utama bagi Badak Sumatera dan satwa yang lain. Perburuan ini ditujukan untuk mengambil cula atau bagian badan lain dari warak.
Cula warak dipercaya dapat menjadi obat tradisional. Selain itu, hilangnya habitat alami juga menjadi ancaman bagi kelancaran hidupnya.

Badak Sumatera hidup pada habitat alami di wilayah hutan rawa dataran rendah sampai perbukitan atau hutan sekunder, tetapi biasanya memilih berada di daerah dengan vegetasi yang lebat.
Badak ialah hewan penjelajah dengan sumber kuliner utama buah-buahan. Contoh kuliner warak ialah mangga dan fikus (ara), daun-daunan, ranting kecil dan kulit kayu. Badak Sumatera memiliki sifat menyendiri (soliter) atau hidup dalam kelompok kecil.
Harapan Baru, Penyelamatan Badak Sumatra
Sebuah aliansi yang beranggotakan lembaga konservasi internasional ternama yang tergabung dalam Sumatran Rhino Rescue telah sukses menyelamatkan dan merelokasi Badak Sumatera berjenis kelamin betina dalam keadaan sehat. Badak tersebut ditempatkan di Kalimantan berkat pertolongan dari para mitra lokal.
Penyelamatan Badak Sumatera ialah acara utama dari program konservasi pembiakan unutk menyelamatkan spesies ini dari ancaman kepunahan. Selain itu, hal ini juga ialah upaya untuk memajukan populasi Badak Sumatra supaya mampu kembali dilepas ke habitat liarnya.
Saat ini, jumlah Badak Sumatra di dunia tidak lebih dari 80 ekor. Dengan jumlah tersebut, maka warak bercula dua ini berada pada titik kritis balasan perburuan dan hilangnya habitat alami sebagai kawasan tinggal dan mencari makanan.
Populasi Badak Sumatera tersebut tidak berada dalam satu lokasi, tetapi tersebar dan terisolasi sehingga menyusahkan untuk menemukan pasangan dan melaksanakan perkawinan. Pembiakannya juga menemui hambatan sebab mempunyai risiko tinggi terhadap kesuburan warak alasannya adalah kurun isolasi yang usang.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno. Beliau menyimpulkan bahwa translokasi ialah langkah awal dalam upaya untuk menyelamatkan Badak Sumatra yang berada pada suasana kritis.
Usaha yang dilaksanakan pemerintah Indonesia tidah hanya penangkaran, tetapi juga menjaga habitat alami dengan harapan populasi Badak Sumatera dapat dikembalikan ke alam liar di era yang hendak datang.
Ketua Komisi Penyelamatan Spesies IUCN, Jon Paul Rodriguez memberikan hal senada. Pemerintah Indonesia yang dikala ini didukung oleh Sumatran Rhino Rescue tengah bergairah melakukan usaha kolaboratif, dan menerapkan ilmu yang dipelajari di penangkaran dan alam liar biar proyek ini berhasil kedepannya.
Adanya program dan upaya evakuasi dari pemerintah dan pihak-pihak terkait, tentu membuka harapan gres bagi keberlangsungan populasi Badak Sumatra.
Comments
Post a Comment